Pembelajaran Matematika di SD
Pembelajaran
Matematika di SD
A. Pengertian
Matematika
Matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan
cara berpikir, karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk menunjang kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi (Offirston, 2014:1). Ini berarti ahwa belajar matematika untuk
mempersiapkan siswa agar mampu menggunakan pola pikir matematika dalam
kehidupan kesehariannya dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan lain.
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin
dan memajukan daya pikir manusia (Depdiknas, 2006:147).Sedangkan pembelajaran
diartikan sebagai suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan
profesional yang dimiliki guru untuk menjadikan seseorang bisa mencapai tujuan
kurikulum (Kosasih, 2014:11). Suatu pembelajaran berlangsung secara efektif
apabila tujuannya tercapai sesuai dengan yang telah direncanakan.
Pembelajaran matematika adalah membentuk logika
berpikir bukan sekedar pendai berhitung. Berhitung dapat dilakukan dengan alat
bantu, seperti kalkulator dan komputer, namun menyelesaikan masalah perlu
logika berpikir dan analisis (Fatimah, 2009:8). Oleh karena itu, siswa dalam
belajar matematika harus memiliki pemahaman yan benar dan lengkap sesuai
tahapan, melalui cara dan media yang menyenangkan dengan menjalankan prinsip
matematika.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar merupakan salah satu
kajian yang penting untuk diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar
untuk membekali siswa dengan kemampuan menghitung dan mengolah data. Kompetensi
tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola,
dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu
berubah, tidak pasti dan kompetitif. Pembelajaran matematika juga dapat
digunakan untuk sarana dalam pemecahan masalah dan mengomunikasikan ide atau
gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
B. Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun (2006:148)
Tentang Standar Isi Satuan mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.
Memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengalikasikan konsep atau logaritma secara luwes,
akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.
2.
Menggunakan penalaran pada pola dan
sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyususn
bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.
Memecahkan masalah yang meliputi
kemampuan memahami, merancang model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol,
tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.
Memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika dalam kehidupan.
Selain tujuan pembelajaran matematika di atas, ada
beberapa tujuan pembelajaran matematika harus dibedakan menjadi 2 menurut
Fatimah (2009:15) yaitu: 1) Anak pandai menyelesaikan permasalahan (menjadi problem
solver). Hal ini dapat dicapai apabila dalam menerapkan prinsip
pembelajaran matematika dua arah. Anak-anak akan dapat menguasai konsep-konsep
matematika dengan baik. 2) Anak pandai dalam berhitung. Anak mampu melakukan
perhitungan dengan benar dan tepat (cepat bukan tujuan utama). Kedua tujuan
terseut dicapai apabila siswa memahami operasi dasar matematika, mengahafal
dasar matematika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian).
Berdasarkan uraian di atas, tujuan tersebut
merupakan tujuan penting yang harus dicapai dalam pembelajaran matematika guna
menghadapi kehidupan yang selalu berubah dan berkembang. Menumbuhkan dan
mengembangkan keterampilan berhitung menggunakan bilangan sebagai alat dalam
kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika juga dapat membentuk sikap
logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
C. Ciri-ciri
Pembelajaran Matematika di SD
Suwangsih dan Tiurlina (2006) menyatakan ciri-ciri pembelajaran matematika
SD yaitu:
1.
Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral
Pendekatan
spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan di mana pembelajaran
konsep atau suatu topik matematika selalu mengaitkan atau menghubungkan dengan
topik sebelumnya, topik sebelumnya merupakan prasyarat untuk topik baru, topik
baru merupakan pendalaman dan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep yang
diberikan dimulai dengan benda-benda konkret kemudian konsep itu diajarkan
kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan menggunakan notasi
yang lebih umum digunakan dalam matematika.
2.
Pembelajaran matematika bertahap
Materi
pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep
yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit, selain pembelajaran matematika
dimuali dari yang konkret, ke semi konkret, dan akhirnya kepada konsep abstrak.
3.
Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif
Matematika
merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan siswa maka pada
pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif.
4.
Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran
matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya pertentangan antara
kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap
benar jika didasarkan kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah
diterima kebenarannya. Meskipun di SD pembelajaran matematika dilakukan dengan
cara induktif tetapi pada jenjang selanjutnya generalisasi suatu konsep harus
secara deduktif.
5.
Pembelajaran matematika hendaknya bermakna
Pembelajaran
matematika secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan
pengertian dari pada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan-aturan, dalil-dalil
tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, dalil-dalil
ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian
dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.
D. Pembelajaran
Matematika
Matematika merupakan alat untuk memberikan cara
berpikir, menyusun pemikiran yang jelas, tepat, dan teliti. Hudojo (2005)
menyatakan, matematika sebagai suatu obyek abstrak, tentu saja sangat sulit
dapat dicerna anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang mereka oleh Piaget,
diklasifikasikan masih dalam tahap operasi konkret. Siswa SD belum mampu untuk
berpikir formal maka dalam pembelajaran matematika sangat diharapkan bagi para
pendidik mengaitkan proses belajar mengajar di SD dengan benda konkret.
Heruman (2008) menyatakan dalam pembelajaran
matematika SD, diharapkan terjadi reinvention (penemuan
kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian
secara informal dalam pembelajaran di kelas. Selanjut Heruman menambahkan bahwa
dalam pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman
belajar siswa sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Sehingga diharapkan
pembelajaran yang terjadi merupakan pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningful),
siswa tidak hanya belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about),
tetapi juga belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning
to be), dan belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), serta
bagaimana bersosialisasi dengan sesama teman (learning to live together).
Tentunya dalam mengajarkan matematika di Sekolah Dasar
tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan, selain siswa yang pola pikirnya
masih pada fase operasional konkret, juga kemampuan siswa juga sangat
beragam. Hudojo (2005)
menyatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengajarkan
matematika di tingkat sekolah dasar yaitu sebagai berikut:
1.
Siswa
Mengajar
matematika untuk sebagian besar kelompok siswa berkemampuan sedang akan berbeda
dengan mengajarkan matematika kepada sekelompok kecil anak-anak cerdas,
sekelompok besar siswa tersebut perlu diperkenalkan matematika sebagai suatu
aktivitas manusia, dekat dengan penggunaan sehari-hari yang diatur secara kreatif
(oleh guru) agar kegiatan tersebut disesuaikan dengan topik matematika. Untuk
siswa yang cerdas, mereka akan mudah mengasimilasi dan mengakomodasi teori
matematika dan masalah-masalah yang tertera dalam buku teks.
2.
Guru
Ada dua
orientasi guru dalam mengajar matematika di SD sebagai berikut:
a.
Keinginan guru mengarah ke kelas sebagai keseluruhan
dan sedikit perhatian individu siswa baik reaksinya maupun kepribadian.
Biasanya mereka membatasi dirinya ke materi matematika yang distrukturkan ke
logika matematika. Mengajar matematika berarti mentranslasikan sedekat-dekatnya
ke teori matematika yang sama sekali mengabaikan kesulitan yang dihadapi siswa.
b.
Guru tidak terikat ketat dengan pola buku teks dalam
mengajar matematika. Ia mengajar matematika dengan melihat lingkungan sekitar
bersama-sama dengan siswa untuk mengeksplor lingkungan tersebut. Kegiatan
matematika diatur sedekat-dekatnya dengan lingkungan siswa sehingga siswa
terbiasa terhadap konsep-konsep matematika.
3.
Alat Bantu
Mengajar
matematika di lingkungan SD, harus didahului dengan benda-benda konkret. Secara
bertahap dengan bekerja dan mengobservasi, siswa dengan sadar
menginterpretasikan pola matematika yang terdapat dalam benda konkret tersebut.
Model konsep seyogianya dibentuk oleh siswa sendiri. Siswa menjadi
“penemu” kecil. Siswa akan merasa senang bila mereka
“menemukan”.
4.
Proses Belajar
Guru
seyogianya menyusun materi matematika sedemikian hingga siswa dapat menjadi
lebih aktif sesuai dengan tahap perkembangan mental, agar siswa mempunyai
kesempatan maksimum untuk belajar.
5.
Matematika Yang Disajikan
Matematika
yang disajikan seyogianya dalam bentuk bervariasi. Cara menyajikannya
seyogianya dilandasi latar belakang yang realistik dari siswa. Dengan demikian
aktivitas matematika menjadi sesuai dengan lingkungan para siswa.
6.
Pengorganisasian Kelas
Matematika
seyogianya disajikan secara terorganisasikan, baik antara aktivitas belajarnya
maupun didaktiknya. Bentuk pengorganisasian yang dimaksud antara lain adalah
laboratorium matematika, kelompok siswa yang heterogen kemampuannya, instruksi
langsung, diskusi kelas dan pengajaran individu. Semua itu dapat dipilih
bergantung kepada situasi siswa yang pada dasarnya agar siswa belajar
matematika.
Dengan memperhatikan keenam hal di
atas, sangat diharapkan pembelajaran matematika menyenangkan bagi siswa dan
pembelajaran matematika menjadi efektif sehingga siswa tidak hanya mampu
menghafal konsep-konsep matematika, tetapi juga harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, jadi sangat diharapkan dalam proses pembelajaran yang
dipraktekkan guru juga melibatkan dan mengaktifkan siswa dalam proses menemukan
konsep-konsep matematika. Sehingga pembelajaran matematika di sekolah dasar
mampu mengembangkan kompetensi-kompetensi matematika seperti yang
terdapat dalam kurikulum matematika.
Daftar
Pustaka
Bermanfaat banget, lanjutkan ��
BalasHapusSangat bermanffat,,terimakasih banyakk 😊
BalasHapus